RSS

Kisah Laki-laki yang Pelupa

19 Oct

Pada zaman dahulu hiduplah seorang laki-laki di daerah Sung bernama Hua Tse, yang memiliki penyakit yang sangat aneh, yaitu melupakan segala sesuatu. Pada malam hari ia akan melupakan benda yang diambil pada pagi harinya dan pada pagi hari ia akan melupakan benda yang ia terima di malam harinya. Ketika sedang berada di jalan, ia akan lupa untuk berjalan, sementara ketika berdiri di dalam rumah, ia akan lupa untuk duduk. Ia tidak dapat mengingat masa lampau di masa sekarang dan tidak dapat mengingat masa sekarang di masa datang.

Seluruh keluarga sangat terganggu dengan penyakit Hua Tse ini. Mereka pergi ke pendoa, dukun, dan tabib tanpa hasil. Namun ada seorang murid Confucius di daerah Lu yang berkata bahwa ia dapat menyembuhkan laki-laki malang ini. Maka keluarga Hua Tse menawarkan padanya separuh kekayaan keluarga jika si murid benar-benar dapat menyembuhkan penyakit aneh ini. Dan sang murid Confucius berkata:

“Penyakitnya bukan jenis yang dapat diobati oleh pendoa, dukun ataupun tabib. Aku akan menyembuhkan pikirannya dan mengubah pandangan pikirannya dan marilah kita berharap ia dapat sembuh.”

Maka sang murid membuat Hua Tse kedinginan dan ia pun meminta pakaian, membuat ia kelaparan dan ia pun meminta makanan. Sang murid juga mengurung Hua Tse di dalam ruangan yang gelap selama tujuh hari dan tidak peduli pada apa yang akan dilakukannya. Dan ajaib, penyakit yang menahun itu dapat disembuhkan hanya dalam hitungan hari.

Ketika Hua Tse sembuh dan mengetahui perihal kesembuhannya, ia menjadi sangat marah. Ia mengamuk pada istrinya, menghukum anak-anaknya dan mengusir keluar si murid Confucius dari rumahnya dengan tombak. Para penduduk desa bertanya mengapa ia melakukan itu dan Hua Tse menjawab:

“Ketika aku tenggelam dalam lautan kelupaan, aku tidak tahu apakah langit dan bumi sungguh-sungguh ada. Sekarang, karena aku telah sembuh, segala hal mengenai keberhasilan, kekecewaan, kesenangan, kesedihan, cinta, dan kebencian pada masa lalu datang kembali menghantuiku dan mengganggu jiwaku. Aku khawatir bahwa semua keberhasilan, kekecewaan, kesenangan, kesedihan, cinta, dan kebencian akan terus-menerus menekan pikiranku di masa datang seperti hal mereka membebani pikiranku sekarang. Dapatkah aku kembali saja pada penyakitku ini?”

Sumber: Kitab Kecerdasan dan Kearifan Orang Cina oleh Lin Yutang (ed)

Advertisements
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: